Cara Menghadapi Anak yang Mempunyai Teman Khayalan

Mempunyai sebuah Imajinasi rasanya adalah hal yang wajar dan pasti pernah ada di pikiran semua orang termasuk kamu. Tapi ketika menyadari seorang anak dari anggota keluarga yang mempunyai teman khayalan, bagaimana cara kamu menyikapinya?

Seorang anak uyang memiliki teman khayalan bukan berarti ada yang salah dengannya. Hal tersebut bisa terjadi oleh beberapa penyebab. Salah satunya adalah tentang mereka yang ternyata adalah anak-anak yang akan memiliki tingkat Kreativitas dan imajinasi di atas rata-rata.

Bagaimana Menghadapi Anak yang Punya Teman Khayalan?

Gambar: Kilatfintech

Tak salah bukan berarti harus dibiarkan, teman khayalan bisa menjadi alasan buruk tersendiri nantinya oleh si anak. Misalnya ketika secara tidak sengaja memecahkan gelas, bisa saja si anak mengatakan kalau itu terjadi akibat ulah teman khayalannya.

Dampak buruk teman khayalan anak lainnya berupa ia yang cenderung terlalu nyaman bersama teman tidak nyatanya itu. Ketika ada banyak anak seusia, ia malah lebih asik bermain sendiri bersama teman khayalannya, hal yang bisa membuat anak lain berpikiran kalau ia sedang tidak waras atau terganggu.

4 Cara Menghadapi Anak yang Mempunyai Teman Khayalan

  1. Aluri Imajinasi si Anak

    Tips pertama dalam menghadapi anak yang berimajinasi mempunyai teman khayalan adalah dengan biarkan ia mengembangkan imajinasinya. Jangan kamu kekang seolah-olah menyuruh dia menghapus imajinasinya.

    Cobalah untuk lakukan pendekatan perlahan, dimana hal yang kamu lakukan membuat ia perlahan bisa membedakan mana yang nyata dan yang tidak.

    Coba untuk tanyakan apa warna kesukaan si teman khayalan atau dari mana ia berasal dan tinggal. Jadi maksudnya adalah, cobalah untuk membiarkan si anak membangun identitas teman khayalannya.

  2. Berikan Edukasi untuk Bertanggung Jawab

    Seperti yang aku katakan tadi, dimana salah satu efek buruk teman khayalan adalah bisa membuat si anak menjadikannya alasan untuk kesalahan yang ia perbuat.

    Ketika teman khayalan tersebut melakukan kesalahan, mintalah agar si anak juga ikut bertanggung jawab akan yang terjadi. Tekanlah agar ia harus bertanggung jawab atas kesahalan yang diperbuat oleh si teman khayalan.

  3. Mendisiplinkan si Teman Khayalan

    Langkah berikutnya ini tidak kalah penting dari sebelumnya. Dimana orang tua harus berperan untuk membuat peraturan sama antara anak dengan si teman khayalan.

    Misalnya ketika makan, anak makan sayur temannya juga ikut harus makan sayur. Anggap seperti kamu juga bisa melihat dan menyayangi si teman khayalan.

  4. Langkah Akhir Menghadapi

    Tahap akhir untuk membuat anak bijak dalam mengetahui mana yang nyata dan tidak adalah dengan mengenalkan dunia nyata.

    Yang dimaksud adalah dengan menawarkan aktivitas-aktivitas menarik seperti misalnya berenang atau bersepeda ke lingkungan umum bersama anak-anak nyata lainnya.

    Semakin sering melakukan hal tersebut, maka kebiasaan si anak untuk bergantung kepada teman khayalan akan hilang dan ia akan tumbuh dengan normal. Mengerti kan sampai sini?

Anak yang mempunyai imajinasi dan mendapatkan teman khayalan adalah salah satu fase yang banyak dialami oleh anak yang rentan akan pengaruh. Bisa jadi hal tersebut terjadi karena ia yang sering ditinggal sendirian atau belum pernah bertemu dengan anak sebaya lainnya

Itulah keempat tips dalam menghadapi seorang anak yang sedang berimajinasi mempunyai seorang teman tak nyata. Peran orang tua sangat penting disini, ingat! hal semacam itu adalah tanggung jawab penuh.


Referensi: Orami